Pages

09 September 2009

Sekadar Menjentik Iman Kita Sejenak...

"Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maaflah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah s.a.w. menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah s.a.w. menanyakan kenapa Jibril a.s. tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril a.s. yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril a.s.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.

"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" Tanya Rasulullah s.a.w.

"Jangan khuatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya'," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini..."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril pula memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?" Tanya Rasulullah pada malaikat penghantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal..." kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah s.a.w. mengaduh, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.


"أوصِيكُم بالصّلاةِ وما مَلَكَت أيمانُكم"

(Peliharalah solat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)


Diluar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menekupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah s.a.w. yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatii...(Ummatku, ummatku, ummatku)"

Sejenak, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.


...Kini, mampukah kita mencintai baginda sepertimana baginda mencintai kita ummatnya?


اللهم صلّ وسلّم وبارِك على نبينا محمدٍ

Betapa cintanya Rasulullah s.a.w kepada kita...


Ps : Ceritakan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya
agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan
RasulNya, sepertimana Allah dan RasulNya mencintai kita.

0 budak nakal dah komen:

Post a Comment

Terima Kasih Untuk Komen Anda!

About Me

My Photo
x pandai nk berblog. harap sudi tunjuk ajar. hehe ^^,
back to top